+6281-128-6163 aliawisatajogja@gmail.com

Manusia adalah makhluk Allah yang terdiri atas unsur jasmani, rohani dan nurani. Ketiga unsur tersebut merupakan beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada manusia. Unsur jasmani adalah unsur yang dapat dicapai oleh indera penglihatan mata. Dalam jasmani inilah di dalamnya terdapat bagian tubuh yang sangat riskan yang mendatangkan kemudharatan. Islam menamainya dengan istilah “aurat”.

Sabda Nabi Saw. :
“Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut”. (HR. Daruquthni dan Baihaqi)

“Dari ummu salamah, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Nabi saw., “bolehkah perempuan sholat hanya memakai baju kurung dan kerudung (telekung saja, tidak memakai kain?” jawab Nabi saw., “Boleh, kalau baju kurung itu panjang sampai menutupi kedua tumitnya”. (HR. Abu Dawud)

Aurat dapat mendatangkan kemudharatan apabila dibiarkan saja tanpa hijab yang menghalangi pandangan mata manusia lain. Aurat yang terlihat dapat menimbulkan nafsu syahwat (baca: birahi), kemudian buahnya adalah terjadinya perbuatan-perbuatan tercela seperti zina, seks bebas, aborsi, pemerkosaan dan sebagainya. Allah memerintahkan agar menutupi aurat kita dengan hijab (pakaian).
Firman Allah swt.:
“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid”. (QS. Al-A’raf: 31)

Fungsi utama pakaian adalah untuk menutupi aurat dan melindungi tubuh dari keadaan alam yaitu cuaca panas dan dingin. Tetapi rupanya manusia masa kini menambah lagi fungsinya yaitu sebagai symbol pembeda stratifikasi social, ekonomi dan sebagai pemberi pengaruh psikologi. Orang kaya berpakaian yang terbuat dari kain sutera, orang menengah berpakaian kain wol, dan orang rendah berpakaian yang terbuat dari kain yang lebih kasar, compang-camping atau “dekil en de kumel” (baca:kotor dan lusuh).

Pakaian yang dikenakannya itu dapat membedakan dan mengiklankan kedudukan, harkat dan martabatnya terhadap sesama manusia lainnya. Seorang TNI, polisi, PNS, Hartawan yang pakaiannya terdapat bintang dipundaknya, pangkat dilengannya dan papan nama didadanya tentu lebih terhormat kedudukannya ditengah-tengah masyarakat dibanding petani dengan pakaian sederhananya.

Dalam ibadah haji, seseorang akan ditempa agar menghilangkan perbedaan dalam perbedaan stratifikasi sosial ekonomi dan psikologis negatif. TNI, Polisi, PNS, Hartawan hanya dibolehkan memakai pakaian ihram saja sama seperti orang lain tatkala ia akan menunaikan haji. Seragam yang dikenakannya setiap hari ditinggalkan di rumah.

Di Miqat Makaniy, tempat ritual ibadah haji dimulai. Disini calon haji mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih. Dengan mengenakannya maka menjadi hilanglah symbol pembeda stratifikasi sosial ekonomi dan tertanggalkanlah psikologis negatifnya. Ali Syari’ati mengatakan “Di miqat ini/ apapun ras dan sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari baik sebagai: (a) serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan); (b) tikus (yang melambangkan kelicikan); (c) anjing (yang melambangkan tipu daya); (d) domba (yang melambangkan penghambaan)”.

Warna pakaian ihram yang putih melambangkan kesucian. Artinya, seorang muslim ketika akan datang ke dunia dalam keadaan suci, setelah manusia diberi nafsu kesucian itu dinodai dengan syirik, kufur dan dosa. Noda-noda tersebut mesti dibersihkan sebelum kematian menjemput.

Dikenakannya pakaian ihram, bermakna pula bahwa agar mengingatkan si calon haji akan berpisahnya jasmani dan rohani, yaitu kematian yang mendekati kita. Kematian akan siap menjemput kita, dimana pun berada kapanpun saatnya, walaupun bersembunyi di dalam benteng atau gua sekalipun.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS. Al-Imran:195)

“Maka apabila sudah tiba ajal (waktu kematian) orang-orang itu, tidak dapatlah mereka mengundurkannya sekalipun sesaat dan tidak pula memajukannya”. (QS. An-Nahl: 61)

Rohani yang suci dapat berpulang ke rahmatullah (selamat ke alam barzah) sedangkan jasmani dikenakan kain kafan putih, dimandikan lalu dikuburkan. Inilah apa yang disebut “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”.

Kesimpulannya bahwa ketika para jamaah haji menginjakan kaki di bumi kelahirannya kembali, dalam hidup barunya itu tidak lagi membedakan status sosial ekonomi dan menghilangkan psikologis negatifnya, menjaga kesucian lahir batinnya dan senantiasa mengingat akan kematian.

(Tulisan ini dimuat di majalah Media Pembinaan Kementerian Agama Prov. Jawa Barat)

 
Shares
Share This