+6281-128-6163 aliawisatajogja@gmail.com

Agar perjalanan umroh dan haji Anda menjadi sah sesuai dengan ajaran dan syari Islam, berikut Alia Wisata membagikan informasi mengenai larangan-larangan yang perlu diperhatikan saat ihram sebagai panduan umroh Anda.

 Dilarang Memakai Pakaian Dengan Jahitan

Saat menunaikan ibadah umroh atau haji, kaum laki-laki dilarang mengenakan baju dan celana yang memiliki jahitan. Disarankan bawahan yang dipakai untuk ihram tidak melampaui kedua mata kaki dan kain yang digunakan tidak berwarna.

Dilarang Menutup Kepala dan Kaki

Tidak hanya larangan menggunakan pakaian dengan jahitan. Kaum laki-laki juga dituntut untuk menghindari penggunaan tutup kepala seperti sorban dan khuf (sarung kaki yang terbuat dari kulit). Pengecualian bagi jamaah yang tidak mendapatkan sandal, maka ia sebaiknya memakai khuf.

 Dilarang Menggunakan Wangi-Wangian dan Minyak Rambut

Dalam menjalankan ibadah umroh dan haji, sebaiknya jamaah menghindari diri untuk menggunakan wangi-wangian seperti parfum dan menggunakan minyak rambut agar ibadah menjadi sah.

Dilarang Mencukur Rambut dan Memotong Kuku

Jamaah ibadah umroh atau haji dilarang mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot) serta memotong kuku. Jika terpaksa mencukur rambut karena sakit atau ada gangguan di sekitar kepalanya sehingga harus bercukur, maka ia akan dikenakan fidyah, yaitu berpuasa, berhadaqah atau berkurban.

 Dilarang Menutup Wajah dan Dua Telapak Tangan

Larangan ini khusus untuk jamaah wanita sesuai dengan sabda Nabi dalam Ibnu Umar, “Janganlah seorang wanita berihram mengenakan cadar dan jangan pula mengenakan kaos tangan”. Namun, bila ada laki-laki yang bukan mahrom lewat di dekatnya, maka dianjurkan bagi wanita untuk menutup wajahnya.

Dilarang Bersetubuh untuk Suami Istri

Jika proses ibadah umroh atau haji belum selesai, dan suami-istri melakukan jima’ (hubungan suami istri), maka mereka wajib membayar denda atau dam berupa seekor unta atau tujuh ekor kambing untuk disembelih serta dibagikan kepada fakir miskin di tanah suci. Bila tidak mampu, maka mereka wajib berpuasa selama sepuluh hari (tiga hari saat masa haji dan tujuh hari saat kembali ke negerinya). Untuk proses ibadah haji, jika suami istri melakukan jima’ sebelum tahallul awwal (sebelum melempar jumroh Aqobah), maka ibadah hajinya batal. Jika dilakukan sesudah tahallul awwal, maka mereka wajib keluar ke tanah halal dan mengulangi semua kegiatan ihram, thawaf, dan saí karena ia telah membatalkan ihram dan wajib memperbaruinya serta wajib menyembelih kambing.

Dilarang Nikah atau Menikahkan

Dalam hadis Usman dari Usman ra, Nabi bersabda, “Orang yang berihram tidak boleh menikahi, dinikahi, dan tidak boleh melamar.”

Dilarang Berkelahi dan Bertengkar

Menurut QS Al Baqarah : 197, Barangsiapa menetapkan niatnya untuk mengerjakan haji, maka dilarang berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji”. Artinya, para jamaah umroh dan haji sebaiknya menjaga emosi agar menghindari hal-hal yang memancing pertengkaran dan perkelahian.

Dilarang Mengucapkan Kata-Kata Kotor

Saat melakukan ibadah umroh di tanah suci, hindarilah berkata kotor dengan memperbanyak dzikir dan istighfar di tengah cuaca panas dan kondisi berdesak-desakan saat thawaf.

 Dilarang Membunuh atau Memburu Binatang Darat

Menurut QS Al Maidah : 95, Allah SWT berfirman, “Dan diharamkan atasmu menangkap binatang darat selama dalam keadaan ihram”. Bila melanggarnya, maka jamaah wajib membayar denda dengan membeli makanan seharga binatang yang diburu serta memberikannya sebagai sedekah kepada fakir miskin. Alternatif lainnya, Anda wajib memberikan makanan untuk fakir miskin sebanyak lima atau enam liter (satu mud) untuk satu harinya.

Semoga informasi mengenai hal-hal yang dilarang saat ihram ini bermanfaat bagi Anda yang sedang merencanakan berangkat umroh atau haji ke tanah suci.

 

 
Shares
Share This